top of page
Search

LATENSI DERITA

  • Writer: Afan Kurniawan
    Afan Kurniawan
  • May 7, 2021
  • 1 min read

Dalam hidup semestinya kita mengakui tidak ada yang kita punya. Tidak ada yang kita miliki.


Mata, bukan mata kita. Telinga bukan telinga kita. Bibir bukan bibir kita. Kaki dan tangan, bukan punya kita. Bahkan harta pun, bukan harta kita semata. Sehingga seyogyanya kita mengakui juga bahwa kapanpun milik yang bukan milik kita itu diambil kita harus ridha, harus ikhlas. Tapi nyatanya ketika sesuatu berkurang dari sisi kita, kita sedih, menangis, kecewa bahkan marah dan putus asa dengan keadaan.


"Bahkan, mestinya kesadaran bahwa tidak ada yang kita miliki, seharusnya membawa kita pada penggunaan yang sesuai dengan keinginan Sang Pemberi. Ketahuilah, Dia menginginkan agar pemberian-Nya digunakan untuk hal-hal yang baik.

Penggunaan fasilitas pinjaman dari Zat Yang Maha Memberi pada jalan yang tidak dikehendaki akan menyebabkan dicabutnya rahmat dan kenikmatan.


Karena bukan buta mata musibah itu, melainkan buta hati. Bukan kehilangan harta musibah itu, melainkan kehilangan keberkahanlah musibah yang sebenarnya. Mari memahami pesan dibalik kesusahan dan penderitaan, niscaya kita akan memahami bahwa Dia selalu berkehendak pada hal yang baik-baik.



 
 
 

Recent Posts

See All

Comments


bottom of page